Kamis, 18 Oktober 2012

Sebab-Sebab Sombong

Imam al-Ghazali dalam Ihya` Ulumuddin menjelaskan ada tujuh hal yang dapat mendorong seseorang berbuat sombong. Ketujuh hal tersebut antara lain:

1. اَلْعِلْم (ilmu)
Sejatinya, seorang yang berilmu memiliki sikap r
endah hati. Semakin berisi semakin merunduk. Demikian falsafah padi mengajarkan. Namun, memiliki ilmu terkadang membuat si pemilik ilmu menjadi sombong: merasa diri paling pintar, merasa diri paling tahu, merasa diri paling paham. Orang lain, dianggapnya tidak tahu apa-apa.

Oleh karena itu, seorang berilmu hendaknya hati-hati karena bisa saja ilmu yang dimilikinya malah membuatnya angkuh. Kok bisa begitu? Ya, bisa saja. Setan kan punya segudang cara untuk menjerumuskan manusia ke lembah dosa dan maksiat? Termasuk menyusupkan kesombangan kepada orang berilmu. Maka, kita berlindung kepada Allah dari hal yang demikian.

Sombong itu urusan hati, tetapi sombong bisa dilihat dari fisik atau tampilan luar. Hanya saja, tidak selamanya fisik mencerminkan hati. Misalnya, karena merasa tahu dan paham, seorang ‘alim menjawab pertanyaan jama’ahnya dengan nada tinggi ditambah retorika dan mimik mukanya mencerminkan ketidaktawadhuan. Orang berilmu seperti ini bisa saja sedang dihinggapi setan dengan menunggangi kesombongan.

Jamaluddin bin Muhammad al-Qasimi dalam kitabnya Mau’izhatul Hasanah min Ihya` ‘Ulumuddin menjelaskan bahwa dalam hal ilmu menjadi penyebab kesombongan, ada dua faktor yang memungkinkan terjadinya kesombongan dengan ilmu. Pertama, sibuk dengan ilmu, tetapi ilmunya bukan ilmu yang hakiki. Ilmu yang hakiki sejatinya akan membuat seorang hamba mengenal Allah yang kemudian ia memiliki rasa takut kepada Allah (khasy-yah). Kedua, menyelami ilmu tetapi dengan cara yang tidak baik, hati yang kotor dan akhlak yang tercela. Maka, ilmunya akan membuatnya sombong.

2. اَلْعَمَلُ وَالْعِبَادَةُ (amal dan ibadah)
Penyebab kesombongan yang kedua adalah amal dan ibadah. Merasa amal yang telah dilaksanakan begitu banyak, besar dan berharga, hati seseorang menjadi angkuh. Ia menganggap orang lain tidak bisa beramal seperti yang ia lakukan. Padahal, dalam hal ini Rasulullah saw. bersabda:
بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ
“Cukuplah seseorang dilabeli buruk ketika ia merendahkan saudaranya yang muslim”. (H.R. Muslim).

Selain itu, ketika ia melihat orang lain beramal dan beribadah, ia merasa amal dan ibadahnya lebih baik daripada orang tersebut. Dengan hanya rajin ke pengajian, ia merasa sudah cukup amalnya. Dengan tahajud setiap malam, shadaqah rutin dan besar, umrah dan haji, ia merasa sudah mendapat kunci surga.

Kita harus hati-hati dari perasaan demikian. Hal seperti itu merupakan bisikan setan agar amal dan ibadah kita menjadi rusak. Sudah cape-cape beramal, ternyata amal menjadi rusak gara-gara kesombangan ketika atau selepas beramal. Sedangkan kesombongan itu sama saja menghinakan diri di hadapan Allah karena jelas-jelas tidak ada yang bisa menandingi Allah dalam hal keutamaan dan kekuasaan.

3. اَلْحَسَبُ وَالنَّسَبُ (keturunan, nasab)
Selanjutnya, kesombongan bisa saja timbul karena faktor keturunan dan nasab keluarga. Memiliki orang tua sebagai tokoh besar suatu masyarakat, seseorang busung dada ketika berhadapan dengan yang lain. Memiliki saudara yang sukses berpendidikan tinggi, seseorang membangga-banggakan diri di depan sahabat-sahabatnya.

Ini jelas tidak lah patut. Kenapa? Ya… bukan dirinya yang menjadi tokoh besar tetapi orangtuanya. Bukan pula dirinya yang berpendidikan tinggi, melainkan saudaranya. Lalu, bagaimana dengan dirinya? Apakah sudah melebihi mereka atau minimal seperti mereka? Maka, kenapa harus sombong?

Dalam pelajaran Adabiyah (moral, etika), ada sebuah ungkapan:
لَيْسَ الْفَتَى مَنْ يَقُوْلُ كَانَ أَبِي... لَكِنَّ الْفَتَى مَنْ يَقُوْلُ هَا أَنَاذَا...
“Bukanlah disebut pemuda yang mengatakan, ‘Inilah ayahku’… tetapi pemuda itu adalah yang mengatakan, ‘Inilah aku’.”

4. اَلْجَمَالُ (ketampanan, kecantikan)
Menurut A, si Fulan itu tampan. Tetapi, B mengatakan biasa saja. Menurut Abdullah si Fulanah cantik. Namun, Abdurrahman mengatakan standar-standar saja. Nah, siapa yang benar? Si A atau B? ini tergantung “selera”. Jadi, dua-duanya benar perspektif masing-masing.

Ilustrasi sederhana tersebut menunjukkan bahwa ketampanan dan kecantikan tidak bisa menjadi standar atau ukuran mulianya seseorang. Oleh karena itu, tidak sepatutnya ketampanan atau kecantikan menjadikan seseorang angkuh karena tampan dan cantik bersifat nisbi (relatif). Namun, bisa saja karena gangguan setan, seseorang sombong dengan tampilan fisiknya yang indah.

Setan akan terus menggoda anak Adam agar ketampanan dan kecantikan yang dimilikinya ia pamer-pamerkan. Selain itu, orang lain dianggapnya tidak lebih tampan atau cantik daripada dirinya, kemudian ia merasa gagah dengan penampilannya.

Sebagai penguat, ada sebuah hadits yang berbunyi:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan melihat bentuk rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal-amal kalian” (H.R. Muslim).

5. اَلْمَالُ (harta)
Harta adalah penyebab kesombongan selanjutnya. Selain sebagai alat beribadah, harta bisa saja dijadikan alat oleh setan untuk menyusupkan kesombongan ke dalam hati manusia. Kita harus berhati-hati dalam bab harta. Harta itu fitnah (ujian) dan salah satu ujiannya adalah bisakah kita menjadi tawadhu meskipun harta melimpah ruah? Bisakah kita menjadi sederhana seperti Rasulullah yang kaya raya, tetapi Beliau tetap berpola sederhana? Informasi tambahan, mahar Rasulullah ketika menikah dengan Khadijah sebanyak 20 ekor unta merah yang per ekornya senilai Rp 434.178.200 – Rp 651.267.300. Total mahar minimalnya berarti Rp 8.683.564.000 (8,6 Milyar).

Sebenarnya harta itu bukanlah milik kita, melainkan milik Allah yang dititipkan kepada kita. Jadi, jika ada orang yang sombong dengan hartanya yang melimpah, maka orang itu tidak tahu malu.

Sekali lagi, mari berhati-hati agar harta yang dimiliki tidak menjadikan kita berbangga diri alias sombong. tetapi, harta kita jadikan sebagai alat beribadah, alat untuk masuk kedalam surga.

6. اَلْقُوَّةُ وَشِدَّةُ الْبَطْشِ (kekuatan, kerasnya penindasan)
Penyebab kesombongan selanjutnya adalah kekuatan, kemampuan, dan kehebatan yang dimiliki. Lagi-lagi kita harus ingat kepada Allah yang telah menciptakan kita dengan segenap kemampuan dan keunikan. Sombong dengan kemampuan diri, sama saja sombong dengan pemberian. Karena, kekuatan dan kemampuan diri merupakan pemberian Allah.

Kita pun perlu berlindung diri kepada Allah agar ketika kita memiliki skill mapan dalam hal tertentu, dalam dakwah, pendidikan, bisnis, dll., kita tidak memiliki kesombongan di dalam hati.

7. اَلْأَتْبَاعُ وَالْأَنْصَارُ وَالْعَشِيْرَةُ وَالْأَقَارِبُ (pengikut, penolong [backing], kelompok, kerabat)
Sebab yang terakhir adalah pengikut, backing, kelompok atau kerabat dekat. Karena teman dekat adalah seorang pejabat atau anggota dewan, lalu seseorang bebangga diri. Karena memunyai bodyguard yang gagah dan berotot, seseorang kemudian membusungkan dada. Karena memiliki pengikut (umat) yang banyak dan berstrata tinggi, seorang ustadz atau kiayi merasa diri sukses dakwah. Semua ini adalah jebakan yang setan buat. Hati-hati merupakan sikap terbaik dalam hal ini.

Ketujuh sebab yang disebutkan Imam al-Ghazali dalam kitabnya tersebut adalah representasi dari banyak hal lain yang juga bisa menyebabkan diri menjadi sombong. Pada intinya, kesombongan bukanlah hak makhluk, melainkan hak Allah swt.. Sekali saja makhluk berlaku sombong, berarti ia “ngajak” tarung dengan Allah swt..

Semoga Allah melindungi kita dari sikap-sikap yang tidak baik termasuk sikap sombong ini.
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَهْوَاء
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemungkaran akhlak, amal dan hawa nafsu”
Diberdayakan oleh Blogger.